Setelah kita memahami apa yang sebenarnya menjadi pangkal hidup tidak bahagia, maka selanjutnya kita harus mencari titik keseimbangan hidup diri kita sendiri. Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan ada dua hal yang menjadi pangkal hidup tidak bahagia yakni ketidakmampuan diri dalam mengatasi perasaan dukacita akibat kegagalan dan ketidakberdayaan dalam mengelola kegembiraan yang disebabkan oleh kesuksesan.
Kedua hal tersebut diatas, dapat menimbulkan ketidakseimbangan hidup apabila kita tidak mampu menguasai diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk menyeimbangan hidup kita agar perasaan atau suasana hati kita tidak terlalu tenggelam dalam dua kondisi tersebut diatas yaitu terlalu berduka cita dan terlalu bergembira.
Allah SWT telah menjelaskan di dalam surat Al-Israa' ayat 83 :
"Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling menjauhi diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa"
Benarlah sudah bahwa pangkal hidup tidak bahagia adalah dua hal diatas. Jika kita ingin hidup kita merasa bahagia, maka kita harus lepas dari ikatan - ikatan tersebut. Tidak telalu merasa senang dan tidak terlalu merasa sedih. Lantas bagaimana caranya agar bisa melepas ikatan tersebut?
Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan iman kita kepada Allah SWT. Bukan hanya sekedar kata, akan tetapi dengan rasa dan keyakinan yang begitu dalam untuk senantiasa mengagungkan ke Maha Kuasaan - Nya. Menanamkan dalam hati sanubari kalimat tauhid "Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada tuhan selain Allah)" dengan sebenar - benarnya. Hal ini berarti kita harus yakin bahwa apa yang telah menimpa kita dan apa yang telah kita lalui sebenarnya adalah kehendak - Nya. Kemudahan dan kesusahan hidup, kegembiraan dan kesedihan, ketaatan dan kemaksiatan, semuanya adalah kehendak Allah. Dia menjadikan semua itu agar kita memahami apa hikmah dibalik semua peristiwa tersebut, sehingga kita dapat belajar agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dan agar kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah kita peroleh.
Dengan mengembalikan segala apa yang kita alami kepada Allah maka kita akan mendapatkan ketenangan dalam jiwa kita, karena kita telah memahami bahwa tidak akan menimpa kita suatu musibah melainkan telah ditulis sebelumnya didalam lauhul mahfudz. Hal semacam ini juga termasuk kedalam dzikir (ingat) dimana kita senantiasa ingat bahwa dalam menjalani hidup ini semuanya adalah dari Allah (minallah), bersama Allah (billah), beserta Allah (ma'allah) dan akan kembali menuju Allah (ilallah).
Penanaman keyakinan seperti ini akan membantu kita dalam menyikapi kehidupan dengan tenang. Dengan melibatkan Allah dalam setiap kesempatan, maka segala urusan/masalah yang menurut kita besar dan sulit untuk kita pecahkan akan sirna dihadapan Yang Maha Besar dan Maha Memudahkan. Sehingga tak kan ada lagi kata - kata tidak mungkin dalam kehidupan kita, tidak akan ada rasa putus asa. Dan benarlah firman Allah yang berbunyi sebagai berikut :
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang" (Q.S. Ar-Ra'd:28)
Kedua hal tersebut diatas, dapat menimbulkan ketidakseimbangan hidup apabila kita tidak mampu menguasai diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk menyeimbangan hidup kita agar perasaan atau suasana hati kita tidak terlalu tenggelam dalam dua kondisi tersebut diatas yaitu terlalu berduka cita dan terlalu bergembira.
Allah SWT telah menjelaskan di dalam surat Al-Israa' ayat 83 :
"Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling menjauhi diri dengan sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa"
Benarlah sudah bahwa pangkal hidup tidak bahagia adalah dua hal diatas. Jika kita ingin hidup kita merasa bahagia, maka kita harus lepas dari ikatan - ikatan tersebut. Tidak telalu merasa senang dan tidak terlalu merasa sedih. Lantas bagaimana caranya agar bisa melepas ikatan tersebut?
Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan iman kita kepada Allah SWT. Bukan hanya sekedar kata, akan tetapi dengan rasa dan keyakinan yang begitu dalam untuk senantiasa mengagungkan ke Maha Kuasaan - Nya. Menanamkan dalam hati sanubari kalimat tauhid "Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada tuhan selain Allah)" dengan sebenar - benarnya. Hal ini berarti kita harus yakin bahwa apa yang telah menimpa kita dan apa yang telah kita lalui sebenarnya adalah kehendak - Nya. Kemudahan dan kesusahan hidup, kegembiraan dan kesedihan, ketaatan dan kemaksiatan, semuanya adalah kehendak Allah. Dia menjadikan semua itu agar kita memahami apa hikmah dibalik semua peristiwa tersebut, sehingga kita dapat belajar agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dan agar kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah kita peroleh.
Dengan mengembalikan segala apa yang kita alami kepada Allah maka kita akan mendapatkan ketenangan dalam jiwa kita, karena kita telah memahami bahwa tidak akan menimpa kita suatu musibah melainkan telah ditulis sebelumnya didalam lauhul mahfudz. Hal semacam ini juga termasuk kedalam dzikir (ingat) dimana kita senantiasa ingat bahwa dalam menjalani hidup ini semuanya adalah dari Allah (minallah), bersama Allah (billah), beserta Allah (ma'allah) dan akan kembali menuju Allah (ilallah).
Penanaman keyakinan seperti ini akan membantu kita dalam menyikapi kehidupan dengan tenang. Dengan melibatkan Allah dalam setiap kesempatan, maka segala urusan/masalah yang menurut kita besar dan sulit untuk kita pecahkan akan sirna dihadapan Yang Maha Besar dan Maha Memudahkan. Sehingga tak kan ada lagi kata - kata tidak mungkin dalam kehidupan kita, tidak akan ada rasa putus asa. Dan benarlah firman Allah yang berbunyi sebagai berikut :
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang" (Q.S. Ar-Ra'd:28)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar