Asa berbaris rapih
Bayangan indah dalam mimpi
Kenyataan berharum mewangi
Hanya harapan meratapi diri
Aksara pedih terlontar jelas
Diam seribu bahasa
Butiran air membasahi pipi
Asa yang sudah dibangun, roboh secara perlahan
Aku bodoh?
Menuruti mulut manis berlian
Lebih memilih ocehannya daripada impianku
Restu berlian sangat berharga bagi kehidupan akan datang
Tuhan mengetahui keinginanku
Sayang sekali, kalam tak diijabah oleh - Nya
Namun harapan tetap diam tanpa bergerak
Tapi, Dia memberikan yang dibutuhkanku
Kini, Asa terkubur masa
Meninggalkan keluh dalam hati
Menjalani pilihan tak ku cintai
Sabar dan ikhlas aku hadapi
Sumber : Sahabat Pena (Alindah)
Cirebon, 19/03/15.
Bayangan indah dalam mimpi
Kenyataan berharum mewangi
Hanya harapan meratapi diri
Aksara pedih terlontar jelas
Diam seribu bahasa
Butiran air membasahi pipi
Asa yang sudah dibangun, roboh secara perlahan
Aku bodoh?
Menuruti mulut manis berlian
Lebih memilih ocehannya daripada impianku
Restu berlian sangat berharga bagi kehidupan akan datang
Tuhan mengetahui keinginanku
Sayang sekali, kalam tak diijabah oleh - Nya
Namun harapan tetap diam tanpa bergerak
Tapi, Dia memberikan yang dibutuhkanku
Kini, Asa terkubur masa
Meninggalkan keluh dalam hati
Menjalani pilihan tak ku cintai
Sabar dan ikhlas aku hadapi
Sumber : Sahabat Pena (Alindah)
Cirebon, 19/03/15.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar