Banyak orang yang bertanya, apa sih sebenarnya yang membuat seseorang itu hidup bahagia?
Tak sedikit dari mereka yang menjawab bahwa harta yang melimpah, tubuh yang sehat, istri yang cantik, anak yang pandai, makanan yang sedap dan segala hal itu merupakan salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Untuk dapat memahami konsep kebahagiaan, terlebih dahulu kita harus mengetahui pangkal dari hidup yang tidak bahagia. Karena dari sanalah kita akan banyak mengambil pelajaran sehingga menemukan jalan kebahagiaan sesungguhnya yang akan kita cari.
Mari terlebih dahulu kita merenungkan ayat berikut :
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" (Q.S. Al-Hadid:22-23)
Nah, dari ayat diatas sudah jelas bahwa segala realitas hidup kita di dunia ini dapat terjadi karena izin dari Allah. Kita dikehendaki oleh Allah tertimpa musibah, maka dari situ kita akan belajar untuk bersabar. Kita mendapatkan izin dari Allah sehingga kita bisa menjalankan ketaatan dan kenikmatan rizki, maka dari situ kita harus bersyukur, bahkan jika kita secara tidak sengaja pernah melakukan perbuatan yang dosa dan hina maka dari situ kita harus belajar untuk bertaubat yang sungguh - sungguh.
Intinya, seseorang harus dapat menguasai dirinya untuk dapat bersikap yang sedang - sedang saja. Banyak kata - kata bijak yang menyebutkan tentang hal ini sebagai berikut "Bahagialah secukupnya, Sedih seperlunya, Mencintai sewajarnya, Membenci sekedarnya, tetapi bersyukur-lah sebanyak - banyaknya". Kata - kata bijak semacam ini, tentunya dihasilkan oleh sebuah pemikiran panjang dari seseorang yang paling tidak telah melewati manis asamnya kehidupan.
Tidak banyak yang memahami, bahwa kesedihan yang dibiarkan berlarut - larut akan membuahkan rasa putus asa. Sebaliknya kegembiraan yang berlebihan bakal melahirkan sikap mengagumi diri sendiri (narsis atau ujub).
Menurut Hamdy, penulis buku "Telaga Bahagia Syaikh Abdul Qadir Jailani" surat Al-Hadid:22-23 diatas merupakan petunjuk tentang pangkal masalah hidup. Pertama, ketidakmampuan diri dalam mengatasi perasaan dukacita akibat kegagalan. Kedua, ketidakberdayaan dalam mengelola kegembiraan yang disebabkan oleh kesuksesan.
Secara mudah, pangkal hidup tidak bahagia dapat digambarkan sebagai berikut :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar